Oleh: Tiaranara
Kakiku seperti melayang ketika berjalan. Sempoyongan tidak kuat membawa tubuhku yang sebenarnya tidak gemuk. Aku lupa sudah berapa gelas yang kuminum malam ini. Terakhir kali yang kuingat adalah ketika aku kabur dari si pemarah itu, lalu menemui teman-teman hanya untuk bersenang-senang, hanya untuk melupakan hal yang terjadi dan kabur dari masalah. Tapi, setelah berjalan sejauh ini aku lupa jalan pulang. Pulang? Sejak kapan aku punya rumah. Batinku penuh keluh.
“Aaahhh! Mati kalian semuaaa! Aku benci melihat orang-orang bisa bahagia,” teriakku melantur.
Jalan ini sepi, tidak ada seorang pun yang bisa mendengar teriakanku. Aku akhirnya jatuh, terduduk di atas trotoar di bawah lampu jalan. Malam terasa lebih gelap dan mencekam. Kepalaku terasa berat sekali, oksigen seperti enggan masuk ke dalam tubuhku. Sesak. Semua yang terjadi begitu menyesakkan hati. Tiba-tiba saja air mataku menetes. Aku menangis terisak.
“Aku harus ke mana lagi?” ucapku pelan dengan kesadaran yang tersisa.
Air mataku semakin deras mengalir. Malam semakin sunyi, seakan mendukungku untuk tetap dalam kegelapan. Hanya tersisa aku dan air mata. Aku menunduk diam.
Beberapa menit berlalu, aku tidak bergerak sedikit pun. Terdengar suara-suara langkah kaki orang yang berlalu lalang, namun tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilku.
“Sarah?” ucap orang itu.
“Siapa?” bisikku. Aku diam abai atas panggilannya.
“Sarah, apa yang kamu lakukan?” orang itu mendekat lalu berjongkok tepat di depanku. Dia terlihat sedikit panik melihat kondisiku yang buruk ini. Tangannya seakan ingin menyentuhku namun gerakannya terlihat ragu. “Kamu baik-baik saja?” pertanyaan yang terlontar darinya sudah jelas tidak membutuhkan jawaban apapun.
“Pergilah! Tinggalkan saja aku!” ucapku ketus, aku bahkan tidak tahu dia siapa.
“Kamu yakin? Kamu tidak pulang? Atau kamu bisa menginap di tempatku... itu pun kalau kamu mau...” katanya sedikit ragu untuk merayu.
“PERGI! AKU TIDAK BUTUH APA-APA!” aku berteriak dan berusaha untuk berdiri meninggalkannya. Tapi bahkan pada langkah pertama, kakiku tidak mau bekerja sama denganku. Aku hampir terjatuh, tapi orang itu dengan tanggap membantuku untuk tetap berdiri.
“Saraaah! Kamu yakin tidak apa-apa?” nadanya terdengar tambah panik. Kepalaku terasa sangat berat. Aku akhirnya menyerah untuk melawannya. Dia segera memapahku berjalan, kubiarkan kakiku mengikuti langkahnya yang entah ke mana.
Selang lima sampai sepuluh menit, dia berbelok ke salah satu bangunan yang terlihat seperti kos-kosan. Dia pun membawaku masuk ke salah satu pintunya. Sesaat setelah memasuki ruangan, perempuan itu langsung menyuruhku tidur di atas kasurnya. Tanpa basa-basi aku langsung meletakkan kepalaku yang sangat berat ini. Dia pun membawakanku segelas air dari sudut ruangan yang berbeda. Ruangan itu tidak luas. Hanya 4x4 meter dan itu sudah termasuk kamar mandi yang berada di pojok ruangan.
“Tidurlah, panggil aku jika kamu membutuhkan sesuatu. Aku masih harus menyelesaikan beberapa hal,” ucapnya pergi menuju meja belajar di sisi ruangan yang lain.
Ah itu bukan meja belajar. Itu meja makan atau meja serbaguna? Aku meliriknya dengan ujung mata. Di atas meja itu terdapat alat tulis dan beberapa cat warna. Di ujungnya terlihat seperti rak peralatan makan. Di atasnya ada rak dengan buku yang berjejer rapi.
Dia langsung duduk menghadap meja itu dan mengambil beberapa alat tulis. Aku memerhatikannya beberapa saat. “Kenapa kamu mau menolongku?” kalimat spontanku menghentikan pergerakannya.
Ia berbalik lalu terdiam sebentar. Dia tersenyum kepadaku. “Aku tidak tahu. Firasatku hanya tidak mau meninggalkanmu dan membuat keadaanmu lebih buruk lagi. Ibuku pasti sedih jika aku mengabaikan temanku. Sebaiknya besok pagi saja kamu pulang, Ibumu pasti khawatir.”
“Tidak akan ada yang khawatir, dia sudah mati sejak lama,” jawabku ketus tidak tertarik membahasnya.
“Ayahmu?” tanyanya lagi sedikit ragu dan mencoba berpikir positif padaku.
“Aku tidak peduli padanya. Dia seharusnya mati saja. Dia juga ingin aku mati.”
Kaget. Dia diam sepersekian detik, kehilangan kata-kata. Sepertinya dia belum pernah menemukan seseorang yang sepertiku. “Oh, maafkan aku telah lancang bertanya. Tapi ... seperti apapun kondisi Kita, Kita selalu layak untuk hidup menjadi lebih baik,” ucapnya akhirnya. Dia pun tersenyum kepadaku, lalu melanjutkan apa yang tengah ia kerjakan tadi.
Sesaat ketika melihat senyumannya, seperti ada yang memelukku. Senyuman yang terlihat seperti telah melewati berbagai rasa sakit kemudian menemukan caranya untuk sembuh. Sangat tulus dan berarti hingga merasuki hati. Belum pernah aku mendapatkan senyuman seperti itu dengan keadaanku yang seburuk ini. Dari kecil, yang kudapat selalu cacian dan makian. Seketika aku tersadar setelah terbawa ke dalam dimensinya. Ah, aku tidak mau peduli dengan hal kecil seperti senyuman itu, pasti hanya sementara. Pasti dia akan mengabaikanku di kemudian hari. Aku pun berusaha untuk tidur dan selalu berharap matahari tidak terbit esok hari agar aku tidak perlu menghadapi hari-hari yang lebih buruk lagi.
***
Sialan ternyata matahari terbit lagi hari ini. Sinar matahari mengintip dari balik jendela yang ada di sebelah kiri ruangan. Aku melihat sekelilingku. Perempuan itu terlihat tertidur di atas sebuah lukisan di atas mejanya. Sepertinya semalaman suntuk ia melukis itu hingga kelelahan dan tertidur. Di samping kirinya berdiri sebuah pigura foto dirinya dan seorang wanita dewasa yang terlihat seperti ibunya. Di samping kanannya, sebuah rak teronggok di sana berisikan beberapa peralatan makan yang berbaris rapi. Ada beberapa gambar dan lukisan tangan dengan cat air yang dipajang berdesakan di ruangan kecil ini. Dengan hanya melihat pajangan itu dan melihat dia yang tertidur di atas sebuah lukisan, aku bisa tahu bahwa dia mungkin suka menggambar dan melukis.
Aku bergerak merayu badanku untuk bangun. Setelah memastikan kesadaranku sudah kembali sepenuhnya, aku melangkah ke daun pintu dan pergi meninggalkan perempuan itu yang masih tertidur. Tanpa sepatah kata pun, tanpa berpamitan, tanpa berterima kasih.
***
Hari ini, setelah berhari-hari bolos kuliah, aku kembali masuk kelas. Kelas yang bahkan aku tidak mengenal siapa pun di sana. Perkuliahan baru berjalan 2 bulan, dan tentu saja aku lebih sering bolos. Lagi pula siapa yang meminta untuk membiayai kuliahku. Aku kan hanya anak nakal, anak tidak berguna, anak sial. Tapi, Tante Ratna – adik dari ibuku – selalu berbaik hati memberiku berbagai kesempatan. Aku tahu, aku tidak boleh mengecewakan tanteku yang sudah susah payah merawatku – anak yang bahkan lahir bukan dari rahimnya. Seluruh keluarga besarku menyalahkanku atas kematian Ibuku ketika melahirkanku. Tapi, Tante Ratna adalah satu-satunya yang masih peduli padaku – bahkan ketika ayahku sendiri tidak menginginkanku. Iya benar, ayahku menyalahkanku atas kematian belahan jiwanya. Dia merawatku dengan kemarahan dan kegilaan. Aku tumbuh dengan tidak ada kebaikan di dalamnya kecuali keberadaan Tante Ratna. Sayangnya, karena pekerjaan Tante Ratna yang super sibuk, aku tidak bisa banyak-banyak mengobrol dengannya, bahkan untuk sekedar bertemu hanya bisa dihitung jari dalam satu tahun.
Alasan paling logis kenapa aku harus pergi ke kampus adalah Tante Ratna. Tadi pagi-pagi sekali, bahkan sebelum ayam tetangga bernyanyi, dia sudah mencariku. Bertanya tentang kabarku karena kemarin aku sempat menghilang, dan pria tua itu mengadu padanya. Aku senang sekali bertemu dengannya setelah terakhir kali pertemuanku dengannya adalah 2 bulan lalu, tepat ketika dia menyuruhku kuliah dan mendaftarkan namaku di Universitas dan Fakultas pilihannya tanpa sepengetahuanku. Tapi sialnya, dia hari ini juga datang hanya untuk menyuruhku masuk kampus.
“Aku tahu kamu pintar meskipun nakal dan susah diatur, Sarah. Tapi jika kamu bolos terus, ibumu tidak akan senang,” katanya mengomel.
“Ibu kan tidak ada, Tante,” ucapku jengkel tapi tetap berusaha sopan kepadanya.
“Sarah!”
Aku langsung terdiam.
Satu-satunya orang yang tidak bisa aku bantah adalah Tante Ratna. Akhirnya dengan berat hati, aku bersiap dan sampailah aku di kampus. Aku tidak mengenali seorang pun di kelasku. Aku langsung memasuki ruangan dan duduk di sembarang tempat. Tidak akan ada yang peduli dengan mahasiswi yang sering bolos sepertiku. Tapi tiba-tiba seseorang masuk dari arah luar. Seseorang yang aku ingat jelas itu siapa. Orang itulah yang kemarin membantuku dan memberikanku tempat bermalam. Aku bahkan baru sadar jika dia adalah teman sekelasku.
“Hana!” ada seseorang yang memanggil namanya dari arah belakang. Perempuan itu langsung menghampiri orang yang memanggilnya.
Oh, namanya Hana, batinku. Tapi aku buru-buru memalingkan pikiranku dan mencoba tidak peduli. Selang beberapa waktu, ada seseorang memanggilku. Ternyata perempuan itu, Hana yang memanggilku.
“Sarah, bagaimana kabarmu? Aku khawatir terjadi apa-apa. Kemarin ketika aku bangun, kamu sudah tidak ada di tempatku,” katanya bertanya.
“Oh, aku buru-buru. Maaf tidak membangunkanmu dan langsung pergi begitu saja,” jawabku datar.
Percakapan itu langsung terpotong karena Dosen dengan segera memulai mata kuliahnya sesaat setelah memasuki ruang kelas.
***
Hari berganti menjadi minggu, itu adalah percakapanku yang terakhir dengan Hana. Setiap aku bertemu di kampus, tidak ada hal yang berarti antara aku dengannya. Hari ini aku pergi ke kampus lagi, tapi kali ini tanpa perintah Tante Ratna. Selepas kuliah, aku tidak langsung kembali ke rumah. Rumah yang seperti neraka itu. Aku tidak betah lama-lama di sana. Seperti saat itu, aku kembali pergi dengan teman-temanku. Pergi untuk bersenang-senang. Aku tidak tahu kapan hal ini akan berakhir. Aku berpikir ini akan tidak bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Karena menurutku, ini sudah lebih baik daripada membusuk bersama si pemarah itu.
Tidak terasa, matahari pun segera bersembunyi di sebelah barat.
“Hey, jangan pergi dulu lah,” ucap temanku ketika melihat ada yang berdiri hendak pergi.
“Ini masih pagi cuy!” lanjutnya yang lain lalu tertawa.
Aku hanya diam mengaminkan. Lagi dan lagi, aku seperti sedang terbang di luar angkasa bersama bintang-bintang. Malam semakin larut, kami bubar. Aku pun berpisah dengan yang lain dan beranjak menuju rumah dengan kaki. Tapi seperti tidak tahu akibat, aku berjalan dengan kepala yang sama beratnya seperti waktu itu.
***
“Dari mana kamu?” pertanyaan itu bak petir yang menyambar, terlontar sedetik setelah aku membuka pintu rumah.
Aku tidak menjawabnya. Aku terus berjalan menuju kamarku. Tapi, sebelum aku sempat menutup pintu kamar, dia menahannya.
“Bau apa ini? Kamu minum lagi bersama teman-temanmu? Sudah kubilang sebaiknya kamu mati saja sejak dulu!” ucapnya tegas.
“Kenapa aku tidak mati saja sejak bayi?”
“Kenapa harus ibu yang mati?”
“Kenapa bayi itu harus selamat?”
“Kenapa dia harus melahirkanku dan kemudian pergi begitu saja?”
“Kenapa dia membiarkan bayi kecil itu dibenci oleh seluruh keluarganya?”
“Kenapa? Kenapa? KENAPA AKU TIDAK DIBUNUH SAJA SEJAK LAMA?” aku menghujaninya dengan sederet pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Mataku mulai berkaca-kaca.
BUK! Dia menghantam kepalaku dengan bukunya yang keras. Kepala yang berat ini seperti ditimpa beban puluhan kilogram.
Belum sempat aku mencerna apa yang terjadi, BUK! Dia memukulku lagi.
“Semua ini memang salahmu, Sarah. Kamu tidak akan pernah sekali pun bisa menggantikan posisinya,” ucapnya dengan banyak perasaan yang terkandung di dalamnya. Marah, sedih juga benci sekaligus.
BUK! Aku spontan memejamkan mata ketakutan. Tapi, kali ini pukulan itu hinggap di daun pintu. Air mata yang sudah terkumpul seketika turun deras menemani rasa sakit yang menembus hati.
“Semua ini salahmu, Sarah!”
“Kamu yang menyebabkan aku kehilangannya.”
“Kamu yang membunuhnya.”
“Kamu harus menebus semuanya!”
“Kamu lahir dengan membawa kematian.”
“Kamu bayi sial itu.”
“Kamu memang harusnya tidak perlu dilahirkan,” kalimatnya datang bertubi-tubi. Suaranya sedikit berteriak dengan tenggorokan yang serak.
Kalimat itu selama bertahun-tahun tidak pernah berubah. Dia seperti berkali-kali lebih mabuk daripada aku. Mabuk mencintai seseorang yang sudah pergi belasan tahun lalu.
Dia sudah gila, harusnya bukan aku yang mati, tapi dia yang mati! Batinku berteriak, tapi mulutku tetap diam. Rasa sakit itu kadang malah membungkam.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia berhenti mengoceh dan melihat layar ponselnya. Pertikaian ini berakhir tiba-tiba persis seperti dimulainya secara tiba-tiba. Ia menatapku beberapa saat sebelum mengangkat ponselnya. Menatapku dengan penuh kebencian. Tubuhku bergetar begitu hebat, rasa takut, sakit, marah, semuanya bercampur menjadi satu.
“Lebih baik kamu saja yang mati sejak saat itu. Semua ini salahmu! Kamu harus menanggungnya seumur hidup,” ucapnya sebelum sedetik kemudian meninggalkanku yang terduduk. Sungguh semua pukulannya tidak lebih menyakitkan daripada kalimat yang selalu dia lontarkan padaku.
Aku juga tidak berharap dilahirkan seperti ini. Aku juga tidak mau hidup tanpa melihat senyuman ibu. Aku juga tidak mau merebut nyawa ibu. Aku juga mau memiliki keluarga yang utuh. Air mataku mengering, tapi luka itu semakin membusuk. Aku tidak punya ide sama sekali apa yang bisa menyembuhkannya.
Ketika dia menerima telepon dan menghadap jendela, tanpa berpikir panjang aku berlari meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Aku berlari dengan sisa-sisa tenaga yang ada, menembus dinginnya malam. Aku tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Setelah kurasa cukup jauh aku berlari, aku berhenti sejenak. Aku berdiam diri dan tiba-tiba saja air mataku jatuh dengan deras.
Aku menangis tertunduk. Semua ini semakin menyesakkan. Sepertinya malam ini terasa lebih gelap lagi. Gelap hingga aku tidak bisa melihat cahaya lagi. Cahaya, harapan, cita-cita, aku tidak memilikinya, aku tidak pernah memikirkannya. Aku hanya dilahirkan untuk menderita. Tapi ternyata, cahaya itu masih ada. Hanya setitik, kecil sekali dibandingkan semesta. Cahaya itu adalah Hana.
***
Mataku terasa sangat berat untuk dibuka. Bengkak. Matahari mengintipku seperti menyapa dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku berada di sebuah ruangan ketika tersadar, ruangan yang pernah aku datangi. Fotonya dengan sosok perempuan yang lebih tua tetap berada di sana. Aku masih ingat detailnya. Tapi, kapan dia membawaku ke sini? Apa yang terjadi semalam?
“Sarah, kamu sudah bangun. Semalam aku pulang kerja part time dan menemukanmu yang tidak sadarkan diri di pinggir jalan. Aku panik dan langsung meminta tolong orang sekitar untuk membantuku membawamu,” tanpa harus bertanya, perempuan itu menjelaskan secara rinci kejadian tadi malam.
“Apa yang terjadi, Sarah?” tanyanya dengan intonasi lembut tapi serius.
Aku hanya diam, tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun. Tapi Hana berjalan mendekatiku dan berlutut di samping kasur.
“Aku tahu, mungkin berat untukmu bercerita. Tapi, Kamu adalah temanku, Sarah. Jika Kamu sedang tidak baik-baik saja, Kamu boleh kapan pun datang ke sini. Aku janji akan selalu membukakan pintu untukmu,” suaranya sangat lembut dan menenangkan.
Tapi tiba-tiba saja air mataku jatuh seperti hujan. Aku tidak pernah diperlakukan sebaik ini. Lihatlah perempuan asing ini, perempuan yang bahkan tidak mengenalku, tiba-tiba saja mau menolongku yang sedang hancur berantakan. Dia memperlakukanku sebagai manusia, memperlakukanku seperti apa yang selama ini aku inginkan. Ternyata aku hanya butuh setitik cahaya itu.
“Hana... aku...” kalimatku bercampur dengan isak tangis yang tidak bisa berhenti.
“Aku... aku takut...” kalimatku tertahan di tenggorokan. Rasanya pahit sekali selama ini. Hana langsung memelukku, memberikan energi yang sangat asing bagiku. Energi hangat dan damai.
“Terima kasih telah menerimaku, Hana.” Air mata ini mengalir begitu deras. Air mata yang selalu tertahan sejak lama. Kesedihan yang tidak tahu harus bermuara di mana kini menemukan tempatnya. Pelukannya begitu hangat dan tenang.
“Sarah, sehancur apapun hidupmu, bahkan ketika satu dunia tidak membutuhkanmu, bertahanlah demi dirimu sendiri. Kamu akan mengetahui indahnya dunia ketika kamu telah menyayangi dirimu sendiri,” ucap Hana.
Hari itu pun penuh dengan tangis dan celotehanku. Aku menceritakan semuanya pada Hana, dan dia menerimaku dengan sepenuh hatinya.
***
Hari berganti hari merajut minggu melengkapi bulan. Aku mulai berteman baik dengan Hana. Aku mulai sering masuk kelas karena di sana aku bisa bertemu dengan Hana. Hana memiliki satu teman dekat, namanya Mariya. Aku pun berteman baik dengannya.
Aku juga bebas menemui Hana di kos-kosan miliknya. Tapi, setelah sekian lama aku berteman dengannya, aku tetap tidak tahu banyak tentangnya. Selama ini yang selalu bercerita adalah aku. Hana selalu mendengarkanku dengan baik. Sesekali memberikanku masukan-masukan tapi dia tidak menuntutku menjadi apa-apa. Aku sudah berhenti mendatangi teman-temanku yang jika dengan mereka, keadaanku tidak akan membaik sama sekali.
Setiap kali aku lepas dari pertikaian atau berakhir seperti waktu itu, Hana selalu menyambutku dengan baik di depan pintunya. Mau sebabak belur apa pun aku. Hana dengan sabar dan cekatan mengobati luka-lukaku. Setiap kali lukaku diobatinya, luka batinku secara otomatis merangkak sembuh.
Hana tidak pernah bercerita tentang dirinya sendiri. Setiap kali dia bercerita, dia hanya menceritakan ibunya. “Ibu terbaik sedunia,” katanya. Setiap kali dia menasehatiku, setiap kata luar biasa yang ia lontarkan, pasti bersumber dari Ibunya. Semua perilaku dan gerak-geriknya yang tenang dan menyenangkan itu katanya hasil dari meniru Ibunya. Aku sungguh ingin bertemu dengan sosok itu. Aku sungguh ingin berterima kasih kepadanya karena telah melahirkan malaikat seperti Hana. Hana yang dengan tulus memungutku di jalanan. Hana yang tidak menganggapku sampah.
Tapi bodohnya aku yang tidak begitu mengenal Hana. Bodohnya aku yang selalu saja egois bercerita tentang kesedihanku tanpa bertanya-tanya tentang kesedihan Hana. Sampai suatu hari, aku dan Mariya sedang berada di kamar Hana, sementara Hana pergi sendirian ke pasar untuk membeli beberapa bahan makanan. Ia memaksa kami untuk tinggal dan dia pergi sendirian. Ruangan 4x4 meter itu sangan hangat. Lukisan yang mengelilingi dinding semakin ramai, ada beberapa buku tambahan menyelinap mengisi ruang-ruang yang masih kosong. Hanya satu yang tidak berubah, dua perempuan yang tersenyum dalam pigura itu tetap teronggok di sana. Seperti tidak boleh ada yang menggesernya walau semili. Belakangan ini aku tahu bahwa tebakanku benar, itu adalah ibunya.
“Kamu tahu Sarah,” Mariya membuka percakapan.
“Hana tidak pernah mengeluh tentang kehidupannya. Dia selalu saja tersenyum dan berpikir bahwa semuanya baik-baik saja selama dia mengingat Ibunya. Kamu lihat Sarah foto itu!,” Mariya menunjuk pigura di atas meja.
“Senyuman dalam pigura itu yang selalu memberi kekuatan untuk Hana. Dia tidak pernah memindahkannya dari situ,” lanjut Mariya.
“Kamu kenal Ibunya, Mariya?”
“Aku kenal. Dia orang yang periang dan penyayang sekali. Semua sifatnya seperti ditransfer pada Hana. Mereka sama persis. Dia juga sangat menyayangiku. Aku berteman dengan Hana sejak SMA, Sarah. Aku menyaksikan banyak hal.”
“Apakah Ibuku bisa menjadi seperti ibunya jika saja ibuku tetap hidup,” bukannya menanggapi obrolan Mariya, aku malah mengutarakan lamunanku.
“Hmm, mungkin tidak sama persis. Tapi, yang pergi biarlah pergi, Sarah. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita bisa seperti Hana ketika kita sendirian seperti dirinya?”
“Maksudmu apa, Mariya? Sendirian? Ibunya di mana?”
“Ibunya,” Mariya menarik napas berat lalu melanjutkan kalimatnya.
“Kamu tentu saja tahu, setiap lima hari sepekan Hana harus pergi kerja part time di sebuah toko dekat pasar sana. Kamu juga tahu, Hana suka melukis. Dia menjual lukisan-lukisan itu di platform online untuk mendapatkan uang tambahan. Semua kerja keras itu ia lakukan demi menyambung hidupnya sendiri. Demi dia bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi sesuai permintaan terakhir Ibunya.”
Aku sebenarnya tahu Hana bekerja, itu sebabnya dia bisa menemukanku malam-malam tergeletak di jalanan ketika dia beranjak pulang dari tempat kerja ke kos-kosannya. Aku juga tahu dia melukis, sejak pertama kali aku terbangun pagi-pagi di kamarnya, Hana tertidur di atas lukisan-lukisan itu. Aku baru tahu ternyata dia menjual lukisan itu setelah aku berteman baik dengannya. Tapi, untuk membiayai hidupnya sendiri? Apa maksudnya? Ibunya yang hebat itu, di mana dia? Permintaan terakhir? Semua pertanyaan seperti hujan mengeroyok pikiranku.
“Apa yang terjadi Mariya? Ceritakan padaku cepat!” ucapku tidak sabaran.
“Ah, apa kamu melewatkan satu hal penting, Sarah?”
“Hal penting apa?”
“Oke, oke! Aku akan menceritakan semuanya.”
Aku diam dan menajamkan fokusku. Aku siap mendengarkan.
“Semua dimulai dari sejak dia kecil. Ayah Hana meninggal ketika ia berumur dua tahun. Dia tidak mengingat sedikit pun seperti apa sosok ayahnya. Dia hanya mengenalnya dari foto. Tapi aku yakin ayahnya adalah orang yang baik. Bertahun-tahun kemudian Hana tinggal hanya dengan Ibunya. Semuanya terasa cukup meskipun hanya berdua. Ibunya sangaaat menyayangi Hana, dan tidak pernah membiarkan siapapun menyakitinya. Aku sering mampir ke rumahnya dan bertemu dengan Ibunya. Tidak tahu sejak kapan, aku secara tidak langsung menjadi bagian dari keluarganya. Dia sangat menyayangiku juga seperti dia menyayangi Hana,” Mariya menerawang dengan mata yang berbinar-binar bahagia.
“Hingga suatu hari, tepatnya saat kami duduk di kelas 3 SMA. Kelas berjalan seperti biasanya. Aku duduk di samping Hana. Tentu saja. Hanya dia yang mau duduk denganku. Aku, si murid pindahan yang pendiam. Dialah yang pertama kali mau berbicara denganku. Hana sangat baik dan tidak pernah pilih-pilih teman, dari situlah aku yang pendiam ini bisa menjadi teman dekatnya. Ketika itu, tiba-tiba wali kelas kami masuk terburu-buru ke dalam kelas,” Mariya berhenti sejenak lalu menarik napas dalam-dalam.
“Wali kelas kami tiba-tiba memotong pelajaran Matematika yang tengah berlangsung. Aku kira akan ada kabar baik dengan dijedanya pelajaran menyebalkan itu. Ternyata aku salah,” mata Mariya berkaca-kaca, dia menelan ludah dan terlihat mengumpulkan sisa-sisa ingatannya kala itu.
“Di saat itulah, wali kelas kami mencari Hana. Dia memberi tahu kami bahwa Ibunya tertimpa kecelakaan ketika pergi bekerja. Hana langsung diberi izin untuk meninggalkan kelas. Aku langsung menyusulnya. Aku diberi izin untuk ikut bersama Hana. Kami terburu-buru untuk sampai di rumah sakit tanpa sempat memikirkan hal apa yang akan terjadi. Baru kali itu, pertama kalinya aku melihat Hana terdiam dan menangis. Hana yang selalu tersenyum, kini tidak baik-baik saja,” air mata Mariya sudah tidak terbendung lagi, mengalir perlahan menyusuri pipinya yang halus.
“Sesampainya kami di sana, Ibunya benar-benar dalam kondisi yang sangat kritis. Aku menyaksikan Hana yang begitu hancur, karena Ibunya, dunianya satu-satunya, harus terbaring lemah. Aku kira itu tidak akan menjadi lebih buruk lagi. Ternyata aku salah,” Mariya berhenti bercerita untuk kesekian kalinya, napasnya kini terasa lebih berat lagi.
“Mariya,” ucapku pelan, lidahku kelu mendengar ceritanya.
“Tepat malam itu, Sarah. Tepat malam itu Ibunya benar-benar pergi meninggalkan Hana sendirian. Hana tidak punya keluarga lain selain kedua orang tuanya. Aku begitu terpukul melihat Hana yang hancur kala itu,” tangis Mariya akhirnya pecah.
Ceritanya membuatku tersentak. Tanpa sadar, tiba-tiba air mataku juga terjatuh.
“Sejak saat itu, aku berjanji untuk selalu membersamainya, Sarah. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya,” tuturnya.
Kini aku paham, kenapa Hana terlihat seperti malaikat. Kini aku mengerti kenapa Hana begitu tulus membantuku dan bersabar terhadap semua perilakuku. Di balik itu semua, ada sosok yang lebih hebat lagi. Ibunya yang sangat menyayanginya, ibunya yang memberikannya pelajaran hidup yang sangat berharga hingga dia bisa menjadi seperti sekarang ini. Dan berkat keberadaan ibunya, Hana bisa tumbuh dengan baik bahkan bisa membuatku bangkit dari keterpurukan. Aku yang ketika itu benar-benar kehilangan cahaya karena tidak ada satu pun yang berarti bagiku, secara ajaib Hana datang menjadi cahaya yang sangat menyilaukan.
Tiba-tiba suara pintu terdengar dibuka dari luar. Hana kembali membawa beberapa bahan makanan. Aku dan Mariya buru-buru menghapus air mata yang tersisa. Aku pun langsung berdiri menyambutnya dan lari memeluknya.
“Eh, Sarah, ada apa?” nadanya kebingungan.
“Tidak ada apa-apa Han,” jawabku singkat dengan masih memeluknya.
“Hey kenapa ini? Apa yang kalian lakukan selama aku pergi?” Hana bertanya curiga.
“Aku hanya ingin memelukmu,” jawabku kemudian melepaskan pelukanku.
“Mariya, ada apa?” tanya Hana masih penasaran.
Mariya mengangkat kedua bahunya, enggan menjelaskan semuanya.
“Kalian kenapaaa? Jawab aku!” Ucap Hana sedikit jengkel tapi masih bingung dengan apa yang terjadi.
“Hey ayo kita lihat apa yang kamu beli Han!” Mariya mengalihkan pembicaraan dan langsung merebut kantong plastik yang Hana genggam.
“Ayo kita makan-makan!” Aku membantu Mariya yang sudah sibuk dengan belanjaan yang dibawa Hana. Kemudian kami pindah ke pojok ruangan tempat kompor dan beberapa peralatan tertata rapi di sana. Hana masih kebingungan tapi akhirnya tersenyum melihat aku dan Mariya tengah sibuk membongkar plastik makanan yang ia bawa.
***
Aku menarik napas dalam-dalam di depan pintu rumah. Sudah lama sekali aku tidak kembali ke rumah ini. Satu minggu ke belakang aku memang bermalam bersama Hana, membantunya melukis dan mencoba mencari pekerjaan kecil-kecilan agar aku tidak membebaninya. Aku pergi bukan karena kabur atau bertengkar lagi dengan laki-laki si pemarah itu. Aku hanya ingin sedikit mengevaluasi diriku selama ini. Dan hari ini, aku memutuskan datang bukan untuk kembali. Aku membuka pintu yang tidak pernah dikunci itu. Aku menuju balkon yang aku yakin dia ada di sana. Aku menemukan sosok lelaki tua itu sedang duduk menghadap taman samping rumah yang tidak terawat. Bagaimana dia bisa merawat taman itu? Merawatku saja dia tidak mau. Jangankan aku, merawat dirinya sendiri saja tidak becus.
Aku menarik nafas lagi, mengumpulkan energi yang sebisa mungkin aku dapatkan dalam sekali hirup.
“Ayah,” ucapku pelan.
Dia bergeming, tapi aku yakin telinganya mendengar suaraku.
“Aku ingin meminta maaf atas semua perkataanku selama ini. Aku... aku ada di sini untuk memberitahumu bahwa aku akan meninggalkan rumah ini, aku akan pergi,” lanjutku tanpa menunggu jawabannya.
Sungguh aku sangat takut untuk melanjutkan kalimatku, tapi lelaki tua itu tidak menanggapi ucapanku selain dengan diam. Aku harus melanjutkan kalimatku, aku harus bisa mengatakan semuanya.
“Aku akan hidup sendiri di luar sana, belajar menjalin benang-benang yang terlanjur kusut dan memperbaiki yang tersisa. Maafkan aku, untuk sekarang aku tidak bisa hidup bersamamu, aku akan kembali setelah semuanya berada dalam keadaan yang lebih baik. Setelah ini aku akan menyampaikan semuanya pada Tante Ratna agar dia tidak perlu mengkhawatirkanku lagi.”
“Berani-beraninya kamu kembali dengan rasa tidak bersalah!” dia berbicara dengan nada bergetar seperti menahan sesuatu yang sangat besar. Lagi-lagi aku harus menghadapi situasi seperti ini. Tapi aku sudah mempersiapkan semuanya.
Dia berdiri namun masih menghadap taman di sana. “Kamu lihat itu!” dia menunjuk taman di hadapannya.
“Kamu pikir taman itu tidak terawat karena salah siapa?” ucapnya melanjutkan.
“Apa aku harus bilang bahwa itu salahku?”
“TENTU SAJA! Semua ini salahmu, benang-benang itu kusut karenamu. Ibumu mati karenamu. Aku ditinggal sendirian karenamu. Kamu tidak akan pernah termaafkan!” tangannya terangkat seperti ingin menggenggamku dan menghancurkanku di dalamnya.
Depresi... Emosi ini, benci, marah, sedih, kesepian, sakit, seperti dituang ke dalam air mendidih dan disiramkan seluruhnya kepadaku. Aku membatin tapi aku hanya diam mendengarkannya.
“KAMU HARUS MENGAKUI BAHWA PEMBUNUH IBUMU ADALAH KAMU SENDIRI! Kamu harus menghabiskan seluruh hidupmu untuk meminta maaf padaku dan ib...”
“Ayah benar.” Ucapku memotongnya. Dia langsung menghentikan omelannya dan diam terkejut mendengarku.
“Ayah benar akulah yang membunuhnya, ayah benar dia pergi karenaku,” tegasku.
Dia terkejut mendengar pengakuan dari mulutku yang selama ini dia harapkan. Kalimat ‘akulah yang membunuh ibu’ adalah kalimat yang selama ini dia ingin dengar dariku. Maka aku akan memberikannya sekarang.
“Itu semua adalah salahku. Ayah benar. Tapi aku tidak akan menghabiskan sisa hidupku di sini untuk menyesal. Aku akan pergi, menjauh darimu untuk sementara waktu. Anggap saja aku sudah mati karena memang harusnya aku yang mati, bukan?”
“Apa kamu bilang?” dia baru menyadari bahwa aku benar-benar akan pergi.
“Ayah hiduplah lebih lama lagi, mungkin esok hari kita akan bertemu, mungkin juga tidak. Semua tergantung dari sejauh mana melangkahkan kaki. Jika Ayah tetap berdiam diri di sana, tanpa ada perubahan apapun, kau tidak akan ke mana-mana,” aku menutup obrolan secara sepihak. Aku pun kemudian langsung berbalik dan pergi.
“Berhenti! Kamu tidak boleh pergi!”
“Kamu tidak tahu betapa hidupku telah rusak karenamu!”
“KAMU HARUS TETAP DI SINI!”
“KEMBALI!”
“SARAH!” dia berteriak tiada henti hingga suaranya hilang dimakan oleh jarak.
“Cukup ibumu yang pergi, kamu tidak boleh pergi!”
“Kamu harus menderita bersamaku!”
Hatiku teriris mendengar semua kalimatnya untuk terakhir kali. Tapi aku tetap melangkah pergi. Meninggalkan masa lalu dan seluruh kesedihan itu.
Aku akhirnya melanjutkan hidup dengan cara yang berbeda, dengan pandangan yang berbeda, dengan orang yang berbeda. Aku masih bisa melakukan banyak hal ketimbang hanya berandai-andai memiliki orangtua yang baik dan harmonis. Aku masih bisa menjadi manusia yang baik meskipun terlahir dengan kebencian. Aku harus membalas kebaikan Hana kepadaku dengan cara menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Dan aku harus berterima kasih kepada perempuan yang tersenyum di dalam pigura itu, seorang Ibu hebat yang sudah melahirkan Hana dengan baik ke dunia ini.
3 Komentar
👍
BalasHapusSekilas, butuh waktu cukup lama, tetapi saya betah. Hahaha, ternyata cuma sangkaan. Syukran.
BalasHapus👍👍👍kereen.
BalasHapusSemangat menulis 💪